Jumat, 23 Maret 2018
Minggu, 17 Desember 2017
Klasifikasi Pipeline pada processor
Pipeline
Pipeline adalah suatu cara yang
digunakan untuk melakukan sejumlah kerja secara bersama tetapi dalam
tahap berbeda yang dialirkan secara kontinu pada unit pemrosesan. Dengan
Pipeline, unit pemrosesan akan selalu bekerja sehingga memaksimalkan
kerja microprocessor. Pada microprocessor yang tidak menggunakan
pipeline, satu instruksi dilakukan sampai selesai, setelah selesai baru
instruksi berikutnya dilakukan. Sedangkan microprocessor yang
menggunakan teknik pipeline, ketika satu instruksi diproses, maka
instruksi berikutnya dapat dikerjakan dan diproses dalam waktu yang
bersamaan. Tetapi, instruksi yang diproses secara bersamaan ini, ada
dalam tahap proses yang berbeda. Jadi, ada sejumlah tahap yang akan
dilewati oleh sebuah instruksi.
Dengan penerapan pipeline ini pada
microprocessor akan didapatkan peningkatan dalam untuk kerja
microprocessor. Hal ini terjadi karena beberapa instruksi dapat
dilakukan secara parallel dalm waktu yang bersamaan. Namun, karena
beberapa instruksi diproses secara bersamaan ada kemungkinan instruksi
tersebut sama-sama memerlukan resource yang sama, sehingga diperlukan
adanya pengaturan yang tepat agar proses tetap berjalan dengan benar.
Sedangkan ketergantungan terhadap data bias muncul, misalnya instruksi
yang berurutan memerlukan data dari instruksi yang sebelumnya. Kasus
jump juga perlu diperhatikan. Karena ketika sebuah instruksi meminta
untuk mrelompat ke suatu memori tertentu akan terjadi perubahan program
counter, sedangkan instruksi yang sedang berada dalam salah satu tahap
tidak mendukung dan mengharapkan terjadinya perubahan program counter.
Klasifikasi Pipeline
Pipeline dapat kita klasifikasikan
menurut fungsi dan konfigurasinya. Secara fungsional, pipeline dapat
diklasifikasikan menjadi tiga kelompok pokok : pipelining aritmatika,
instruksi, dan prosesor. Ramamoorthy dan Li (1977) mengajukan tiga skema
untuk mengklasifikasikan pipeline menurut konfigurasi dan strategi
kendalinya : unifungsi atau multifungsi dan skalar atau vector.
1 Klasifikasi Berdasarkan Fungsi- Pipelining Aritmatika
Proses segmentasi fungsi dari ALU dari sistem yang muncul dalam kategori ini.
a. Pipelining Instruksi
Dalam suatu komputer non-pipeline, CPU
bekerja melalui suatu siklus yang berkesinambungan dari
fetch-decode-eksekusi untuk semua instruksinya. Proses fetch suatu
instruksi tidak akan dimulai sampai eksekusi instruksi sebelumnya
selesai. Untuk mem-pipeline fungsi ini, instruksi-instruksi yang
berdampingan di-fetch dari memori ketika instruksi yang sebelumnya
di-decode dan dijalankan. Proses pipelining instruksi instruction look
ahead, mem-fetch instruksi secara berurutan. Dengan demikian, jika suatu
instruksi menyebabkan percabangan keluar dari urutan itu maka pipe akan
dikosongkan dari seluruh instruksi yang telah di-fetch sebelumnya dan
instruksi percabangan tersebut di-fetch. Proses pipelining instruksi
dikerjakan pada hampir semua komputer berkemampuan tinggi.
b. Pipelining Processor
Sewaktu stage dari suatu pipeline,
prosesor aktual dan latch-latch saling berbagi memori di antara
prosesor-prosesor tersebut, sehingga pipeline tersebut disebut sebagai
pipeline prosesor. Dalam pipeline ini, setiap prosesor mempunyai suatu
tugas tertentu yang akan dijalankan pada aliran data. Pipelining banyak
prosesor(multiple prosesor) merupakan konsep yang relatif baru dan belum
umum.
2 Klasifikasi Berdasarkan Konfigurasi- Unifungsi dan Multifungsi
Kemampuan suatu pipeline menjalankan
hanya satu jenis pokok operasi disebut sebagai pipeline unifungsi.
Misalnya, perkalian floating-point mensyaratkan pipeline agar juga
menjalankan operasi yang sama pada setiap kelompok input. Jika pipeline
dapat menjalankan fungsi-fungsi yang berbeda maka disebut sebagai
pipeline multifungsi. Fungsi-fungsi yang berbeda itu bisa dijalankan
baik pada waktu yang bersamaan ataupun berbeda, dengan menghubungkan
subkelompok-subkelompok stage yang berbeda dalam pipeline. Pipeline
disusun seperlunya sesuai dengan nilai input kendali tambahan.
- Static atau Dynamic
Ketika instruksi-instruksi yang
berjenis sama akan dijalankan secara bersamaan waktunya, maka digunakan
pipeline statis. Pipeline ini dapat berupa pipeline fungsional maupun
multifungsional tetapi mungkin mengasumsikan hanya satu konfigurasi
fungsional pada suatu waktu. Suatu pipeline multifungsi statis dapat
bekerja paling baik jika fungsi yang akan dijalankan tidak sering
berubah. Antara perubahan, pipeline terlihat sebagai pipeline unifungsi
dan mengulangi operasi yang sama berulang-ulang. Sebelum mengganti
fungsi tersebut, kelompok input terakhir dari fungsi sebelumnya harus
benar-benar telah melewati pipeline. Kemudian pipeline dikonfigurasikan
untuk fungsi yang baru dan input yang baru boleh masuk ke dalam pipe.
Dengan pipeline dinamis, beberapa konfigurasi fungsional dapat muncul
sekaligus. Hal ini berarti harus digunakan sebuah pipeline
multifungsional. Dalam kasus ini, konfigurasi pipe berubah-ubah secara
konstan, tergantung pada data mana untuk fungsi yang mana pada stage
yang mana untuk setiap penangguhan clock. Pipeline dinamis memerlukan
kendali yang sangat kompleks dan mekanisme perangkat untuk
mengkonfigurasikan pipe bagi input-input tertentu. Untuk alasan ini,
pipelining aktual tidak berada di bawah kendali programmer melainkan
dibangun kedalam arsitektur mesin tersebut.
- Skalar atau Vector
Suatu pipeline skalar memproses
serangkaian operasi skalar pada operand skalar. Salah satu contoh
berupa operasi ADD dalam loop FOR. Pipeline vector dirancang untuk
memproses instruksi vektor dengan menggunakan operand vektor.Komputer
yang mempunyai instruksi-instruksi vektor disebut sebagai prosesor
vektor.
sumber :
https://www.google.co.id/search?q=klasifikasi+pipeline&oq=klasifikasi+pipeline&aqs=chrome..69i57.10565j0j8&sourceid=chrome&ie=UTF-8#
Kamis, 14 Desember 2017
Klasifikasi pada arsitektur komputer pararel dan macam gangguan pada sistem distribusi
Klasifikasi pada arsitektur komputer pararel dan macam gangguan pada sistem distribusi
Arsitektur Paralel
Paralelisme dalam
suatu komputer dapat diaplikasikan pada beberapa tingkatan, seperti berikut:
1. Tingkat pekerjaan: antara pekerjaan-pekerjaan atau
fase-fase suatu pekerjaan. Hal ini menjadi prinsip dasar dari multiprogramming.
2. Tingkat prosedur: antara prosedur-prosedur dan di dalam
loop. Hal ini harus tercakup sebagai hal yang penting bagi suatu bahasa.
3. Tingkat instruksi: antara fase-fase sebuah siklus
instruksi, yaitu fetch, decode dan eksekusi suatu instruksi.
4. Tingkat aritmatika dan bit: antara bit-bit dalam sirkuit
aritmatika. Salah satu contohnya adalah adder paralel. Telah banyak usaha untuk
mengklasifikasikan perancangan arsitektur komputer paralel. Namun tidak ada
satupun yang mampu memisahkan semua jenis perancangan menjadi kelompok-kelompok
yang berbeda.
Skema klasifikasi yang
paling umum digunakan adalah taksonomi Flynn. Kita akan membahas pula dua skema
lainnya yaitu: Shore dan Feng.
Klasifikasi Flynn
Michael J. Flynn
memperkenalkan suatu skema untuk mengklasifikasikan arsitektur suatu komputer
dengan melihat bagaimana mesinnya menghubungkan instruksi-instruksinya ke data
yang sedang diproses. Berikut klasifikasinya:
1. SISD: single instruction stream, single data stream.
Merupakan suatu komputer serial konvesional dimana instruksi-instruksi
dijalankan satu per satu dan sebuah instruksi tunggal berhubungan dengan paling
banyak satu operasi data.
2. SIMD: single instruction stream, multiple data stream.
Dalam sebuah komputer SIMD, suatu instruksi tunggal mengawali sejumlah besar
operasi.
3. MISD: multiple instruction stream, single data stream.
Kelas MISD melaksanakan beberapa operasi instruksi secara bersamaan pada sebuah
item data tunggal.
4. MIMD: multiple instruction stream, multiple data stream.
Sebuah komputer MIMD dicirikan oleh eksekusi lebih dari satu instruksi pada
saat yang bersamaan, dimana setiap instruksi beroperasi pada beberapa aliran
data.
Klasifikasi Shore
J.E. Shore membuat
klasifikasi arsitektur komputer yang didasarkan pada organisasi bagian-bagian
penyusun suatu komputer dan membedakannya menjadi enam jenis mesin.
1. Mesin I. Pada komputer ini, satu instruksi dikerjakan pada
suatu waktu dan masing-masing beroperasi pada satu word dalam suatu waktu.
2. Mesin II. Komputer ini juga menjalankan satu instruksi
pada suatu waktu, namun ia beroperasi pada sebuah irisan dari suatu bit dalam
suatu waktu, bukannya semua bit dalam suatu word data.
3. Mesin III. Sebuah komputer dalam kelas ini memiliki dua
unit pengolahan yang dapat beroperasi pada data, satu word dalarn suatu waktu
atau suatu irisan bit dalam suatu waktu.
4. Mesin IV. Komputer jenis ini dicirikan oleh sejumlah
elemen (unit pengolahan dan unit memori), semua di bawah kendali sebuah unit
kendali logika (CLU) tunggal.
5. Mesin V. Mesin V dihasilkan dengan mengubah Mesin IV
sedemikian sehingga elemen-elemen pengolahan dapat berkomunikasi dengán
tetangga terdekat mereka.
6. Mesin VI. Komputer ini, disebut sebagai array
logika-dalam-memori, merupakan sebuah mesin dengan logika prosesor yang
tersebar dalam memori.
Klasifikasi Feng
Tse-yum Feng (1972)
menyarankan pengklasifikasian arsitektur komputer atas tingkatan paralelisme mereka. Tingkatan paralelisme (degree of parallelism)
diwakili oleh pasangan (n, m) dimana n merupakan panjang word dan m adalah
panjang irisan bit.
Pasangan ini diklasifikasikan menjadi empat kelompok
sebagai berikut:
1. Jika n = 1 dan m = I maka tidak terjadi paralelisme. Word
dan bit diproses satu per satuan waktu. Hal ini disebut sebagai word serial/bit
serial(WSBS).
2. Jika n> 1 dan m = 1 maka paralelisme itu disebut sebagai
word paralel/bit serial (WPBS). Dalam hal ini, semua n irisan bit diproses satu
per satuan waktu.
3. Paralelisme word serial/bit paralel (WSBP) terjadi jika n
= 1 dan m> 1. Dengan demikian sejumlah n word diproses satu per satuan waktu
tetapi sejumlah m bit dan masing-masing word diproses secara paralel.
4. Kategori terakhir disebut sebagai word paralel/bit paralel
(WPBP) dan merupakan suatu paralelisme dimana n > 1 dan m > 1. Dalam hal
ini, sejumlah nm bit diproses secara bersamaan.
Komputer sekuensial berdasarkan klasifikasi Flynn adalah
kelompok komputer SISD hanya mempunyai satu unit pengendali untuk menentukan
instruksi yang akan dieksekusi. Pada setiap satuan waktu hanya satu instruksi
yang dapat dieksekusi, dimana kecepatan akses ke memori dan kecepatan piranti
masukan dan keluaran dapat memperlambat proses komputasi.
Beberapa metoda dibangun untuk menghindari masalah tersebut,
seperti penggunaan cache memory. Namun komputer sekuensial ini tetap mengalami
keterbatasan jika menangani masalah yang memerlukan kecepatan tinggi. Hal-hal
tersebut di atas pada akhirnya melatarbelakangi lahirnya sistem komputer
paralel.
Berdasarkan klasifikasi Flynn, komputer paralel termasuk kelompok SIMD
atau MIMD. Komputer paralel mempunyai lebih dari satu unit pemroses dalam
sebuah komputer yang sama.
Hal yang membuat suatu komputer dengan banyak prosesor
disebut sebagai komputer paralel adalah bahwa seluruh prosesor tersebut dapat
beroperasi secara simultan. Jika tiap-tiap prosesor dapat mengerjakan satu juta
operasi tiap detik, maka sepuluh prosesor dapat mengerjakan sepuluh juta
operasi tiap detik, seratus prosesor akan dapat mengerjakan seratus juta
operasi tiap detiknya[Les93].
Pada dasarnya
aktivitas sebuah prosesor pada komputer paralel adalah sama dengan aktivitas
sebuah prosesor pada komputer sekuensial. Tiap prosesor membaca (read) data
dari memori, memprosesnya dan menuliskannya (write) kembali ke memori.
Aktivitas komputasi ini dikerjakan oleh seluruh prosesor secara paralel.
Macam-macam Gangguan pada sistem distribusi
1. Gangguan beban lebih
Gangguan ini sebenarnya bukan gangguan murni, tetapi bila dibiarkan terus menerus berlangsung dapat merusak peralatan listrik yang dialiri oleh arus tersebut. Karena arus yang mengalir melebihi dari kapasitas peralatan listrik dan pengaman yang terpasang melebihi kapasitas peralatan, sehingga saat beban melebihi pengaman tidak trip. Misal : kapasitas penghantar 300 A dan pengaman di setting 350 A tetapi beban mencapai 320 A, sehingga pengaman tidak trip dan penghantar akan terbakar.
2. Gangguan hubung singkat
Gangguan hubung singkat, dapat terjadi antar fasa (3 fasa atau 2 fasa) atau 1 fasa ketanah dan sifatnya bisa temporer atau permanen.
Gangguan permanen antara lain :
Gangguan hubung singkat, bisa terjadi pada kabel atau pada belitan transformator tenaga yang disebabkan karena arus gangguan hubung singkat melebihi kapasitasnya, sehingga penghantar menjadi panas yang dapat mempengaruhi isolasi atau minyak transformator, sehingga isolasi tembus. Pada generator yang disebabkan karena adanya gangguan hubung singkat atau pembebanan yang melebihi kapasitas. Sehingga rotor memasok arus dari eksitasi berlebih yang dapat menimbulkan pemanasan yang dapat merusak isolasi sehingga isolasi tembus. Disini pada titik gangguan memang terjadi kerusakan yang permanen. Peralatan yang terganggu tersebut, baru bisa dioperasikan kembali setelah bagian yang rusak diperbaiki atau diganti.
Gangguan temporer, antara lain :
Flashover karena sambaran petir (penghantar terkena sambaran petir), flashover dengan pohon, penghantar tertiup angin yang dapat menimbulkan gangguan antar fasa atau penghantar fasa menyentuh pohon yang dapat menimbulkan gangguan 1 fasa ketanah. Gangguan ini yang tembus (breakdown) adalah isolasi udaranya, oleh karena itu tidak ada kerusakan yang permanen. Setelah arus gangguannya terputus, misalnya karena terbukanya circuit breaker oleh relai pengamannya, peralatan atau saluran yang terganggu tersebut siap dioperasikan kembali.
3. Gangguan Tegangan Lebih
Gangguan tegangan lebih yang diakibatkan adanya kelainan pada sistem, dimana tegangan lebih dibedakan atas :
- Tegangan lebih dengan power frekuensi, misal : pembangkit kehilangan beban yang diakibatkan adanya gangguan pada sisi jaringan, sehingga over speed pada generator, tegangan lebih ini dapat juga terjadi adanya gangguan pada pengatur tegangan secara otomatis (Automatic Voltage Regulator).
- Tegangan lebih transient karena adanya surja petir (lightning surge) yang mengenai peralatan listrik atau saat pemutus (PMT) yang menimbulkan kenaikan tegangan yang disebut surja hubung (switching surge).
4. Gangguan Ketakstabilan (Instability)
Gangguan hubung singkat atau lepasnya pembangkit, dapat menimbulkan ayunan daya (power swing) atau menyebabkan unit-unit pembangkit lepas sinkron, ayunan dapat menyebabkan salah kerja relai. Lepas sinkron dapat menyebabkan berkurangnya pembangkit, karena tripnya pembangkit yang besar dari spinning reserve, maka frekuensi akan terus turun atau terpisahnya sistem yang selanjutnya dapat menyebabkan gangguan yang lebih luas bahkan sistem terjadi keruntuhan (collapse).
Sumber :
Macam-macam Gangguan pada sistem distribusi
1. Gangguan beban lebih
Gangguan ini sebenarnya bukan gangguan murni, tetapi bila dibiarkan terus menerus berlangsung dapat merusak peralatan listrik yang dialiri oleh arus tersebut. Karena arus yang mengalir melebihi dari kapasitas peralatan listrik dan pengaman yang terpasang melebihi kapasitas peralatan, sehingga saat beban melebihi pengaman tidak trip. Misal : kapasitas penghantar 300 A dan pengaman di setting 350 A tetapi beban mencapai 320 A, sehingga pengaman tidak trip dan penghantar akan terbakar.
2. Gangguan hubung singkat
Gangguan hubung singkat, dapat terjadi antar fasa (3 fasa atau 2 fasa) atau 1 fasa ketanah dan sifatnya bisa temporer atau permanen.
Gangguan permanen antara lain :
Gangguan hubung singkat, bisa terjadi pada kabel atau pada belitan transformator tenaga yang disebabkan karena arus gangguan hubung singkat melebihi kapasitasnya, sehingga penghantar menjadi panas yang dapat mempengaruhi isolasi atau minyak transformator, sehingga isolasi tembus. Pada generator yang disebabkan karena adanya gangguan hubung singkat atau pembebanan yang melebihi kapasitas. Sehingga rotor memasok arus dari eksitasi berlebih yang dapat menimbulkan pemanasan yang dapat merusak isolasi sehingga isolasi tembus. Disini pada titik gangguan memang terjadi kerusakan yang permanen. Peralatan yang terganggu tersebut, baru bisa dioperasikan kembali setelah bagian yang rusak diperbaiki atau diganti.
Gangguan temporer, antara lain :
Flashover karena sambaran petir (penghantar terkena sambaran petir), flashover dengan pohon, penghantar tertiup angin yang dapat menimbulkan gangguan antar fasa atau penghantar fasa menyentuh pohon yang dapat menimbulkan gangguan 1 fasa ketanah. Gangguan ini yang tembus (breakdown) adalah isolasi udaranya, oleh karena itu tidak ada kerusakan yang permanen. Setelah arus gangguannya terputus, misalnya karena terbukanya circuit breaker oleh relai pengamannya, peralatan atau saluran yang terganggu tersebut siap dioperasikan kembali.
3. Gangguan Tegangan Lebih
Gangguan tegangan lebih yang diakibatkan adanya kelainan pada sistem, dimana tegangan lebih dibedakan atas :
- Tegangan lebih dengan power frekuensi, misal : pembangkit kehilangan beban yang diakibatkan adanya gangguan pada sisi jaringan, sehingga over speed pada generator, tegangan lebih ini dapat juga terjadi adanya gangguan pada pengatur tegangan secara otomatis (Automatic Voltage Regulator).
- Tegangan lebih transient karena adanya surja petir (lightning surge) yang mengenai peralatan listrik atau saat pemutus (PMT) yang menimbulkan kenaikan tegangan yang disebut surja hubung (switching surge).
4. Gangguan Ketakstabilan (Instability)
Gangguan hubung singkat atau lepasnya pembangkit, dapat menimbulkan ayunan daya (power swing) atau menyebabkan unit-unit pembangkit lepas sinkron, ayunan dapat menyebabkan salah kerja relai. Lepas sinkron dapat menyebabkan berkurangnya pembangkit, karena tripnya pembangkit yang besar dari spinning reserve, maka frekuensi akan terus turun atau terpisahnya sistem yang selanjutnya dapat menyebabkan gangguan yang lebih luas bahkan sistem terjadi keruntuhan (collapse).
Sumber :
http://www.academia.edu/7424831/Parallel_PROCESSING_Pemrosesan_paralel
MARSUDI, DJITENG.,” Operasi Sistem Tenaga Listrik “, Yogyakarta, Graha Ilmu, 2006
Selasa, 03 Oktober 2017
Aljabar Boolean
Aljabar Boolean
Aljabar Boolean adalah salah satu aljabar yang berkaitan dengan variabel-variabel biner dan operasi-operasi logika. Variabel-variabel dalam aljabar boole dinyatakan dengan huruf-huruf seperti : A, B, C, …, X, Y, Z. Sedangkan dalam aljabar Boolean terdapat 3 operasi logika dasar yaitu : AND, OR dan NOT (Komplemen).
Sebuah fungsi Boolean adalah sebuah ekspresi aljabar yang dibentuk
dengan variabel-variabel biner, simbol-simbol operasi logika, tanda
kurung dan tanda “=”. Untuk sebuah nilai yang diberikan pada variabel ,
fungsi Boolean dapat bernilai 1 atau 0.
Contoh fungsi Boolean :
f = X + Y ’ . Z
Fungsi f sama dengan 1 jika X = 1 atau jika kedua nilai Y ‘ dan Z = 1.
f = 0 dalam hal lain.
Tetapi kita juga dapat menyatakan bahwa jika Y ‘ = 1, maka Y = 0, karena
Y ‘ adalah komplemen dari Y. Secara ekuivalen dapat dinyatakan bahwa :
f = 1
jika X = 1 atau Y.Z = 0.1
Hubungan antar sebuah fungsi dengan variabel-variabel binernya dapat
disajikan dalam bentuk sebuah Tabel Kebenaran (Truth Table). Untuk
menyajikan sebuah fungsi dalam sebuah tabel kebenaran, kita membutuhkan
sebuah daftar 2n kombinasi 1 dan 0 dari n buah variabel biner.
Contoh :
f = X + Y ’ . Z
∑ variabel = 3 (X, Y’ dan Z)
2n = 23 = 8 kombinasi 0 dan 1.
Maka tabel kebenarannya adalah sebagai berikut :
Sebuah fungsi Boolean dapat diubah menjadi sebuah diagram logika yang terdiri dari gerbang-gerbang logika.
Contoh :
f = X + Y ’ . Z
Diagram logikanya :
Kegunaan dari aljabar Boolean adalah
memberikan fasilitas penulisan dalam perancangan rangkaian digital.
Aljabar Boole menyediakan alat untuk dibuat :
Misalkan terdapat :
Maka, disebut Aljabar Boolean jika untuk setiap a, b, c ∈ B berlaku aksioma-aksioma atau postulat Huntington atau hukum-hukum berikut:
1. Closure:
Contoh:
Buktikan (i) a + a’b = a + b dan (ii) a(a’ + b) = ab
Penyelesaian:
(i) a + a’b = (a + ab) + a’b (Penyerapan)
= a + (ab + a’b) (Asosiatif)
= a + (a + a’)b (Distributif)
= a + 1 • b (Komplemen)
= a + b (Identitas)
(ii) adalah dual dari (i)
A. Jaringan Pensaklaran (Switching Network)
Saklar, yaitu objek yang mempunyai dua buah keadaan; buka dan tutup. Tiga bentuk gerbang paling sederhana:
1. Output b hanya ada jika dan hanya jika x dibuka ⇒ x
- Mengekspresikan dalam bentuk aljabar sebuah tabel kebenaran yang merupakan hubungan antara variabel-variabel,
- Mengekspresikan dalam bentuk aljabar hubungan input dan output diagram logika,
- Mendapatkan rangkaian-rangkaian yang lebih sederhana untuk fungsi yang sama.
Relasi-Relasi Dasar Aljabar Boolean :
Keterangan :- Relasi (1), (2), (3) dan (4) disebut dengan Hukum penjalinan dengan konstanta.
- Relasi (5) dan (6) disebut Hukum perluasan.
- Relasi (7) dan (8) disebut Hukum komplementasi
- Relasi (9) dan (10) disebut Hukum komutatif.
- Relasi (11) dan (12) disebut Hukum asosiatif.
- Relasi (13) dan (14) disebut Hukum distributif.
- Relasi (14) tidak dapat digunakan dalam aljabar biasa, tetapi relasi ini sangat berguna dalam memanipulasi ekspresi-ekspresi aljabar boole.
- Relasi (15) dan (16) disebut Dalil de Morgan.
- Relasi (17) menyatakan jika suatu variabel dikomplemenkan sebanyak dua kali maka akan didapat nilai asli dari variabel tersebut.
- Relasi (18) dan (19) disebut Hukum absorpsi.
Definisi Aljabar Boolean
Aljabar adalah sistem aljabar pada suatu himpunan S dengan dua operasi yaitu penjumlahan ( + ) dan perkalian ( . ) yang didefinisikan pada himpunan tersebut.- Dua operator biner: + dan ⋅
- Sebuah operator uner: ’.
- B : himpunan yang didefinisikan pada operator +, ⋅, dan ’
- 0 dan 1 adalah dua elemen yang berbeda dari B.
(B, +, ⋅, ’)
Maka, disebut Aljabar Boolean jika untuk setiap a, b, c ∈ B berlaku aksioma-aksioma atau postulat Huntington atau hukum-hukum berikut:
Hukum-Hukum Aljabar Boolean
1. Closure:
- (i) a + b ∈ B
- (ii) a ⋅ b ∈ B
- (i) a + 0 = a
- (ii) a ⋅ 1 = a
- (i) a + a = a
- (ii) a ⋅ a = a
- (i) a + a’ = 1
- (ii) aa’ = 0
- (i) a ⋅ 0 = 0
- (ii) a + 1 = 1
- (i) (a’)’ = a
- (i) a + ab = a
- (ii) a(a + b) = a
- (i) a + b = b + a
- (ii) ab = ba
- (i) a + (b + c) = (a + b) + c
- (ii) a (b c) = (a b) c
- (i) a + (b c) = (a + b) (a + c)
- (ii) a (b + c) = a b + a c
- (i) (a + b)’ = a’b’
- (ii) (ab)’ = a’ + b’
- (i) 0’ = 1
- (ii) 1’ = 0
Contoh:
Buktikan (i) a + a’b = a + b dan (ii) a(a’ + b) = ab
Penyelesaian:
(i) a + a’b = (a + ab) + a’b (Penyerapan)
= a + (ab + a’b) (Asosiatif)
= a + (a + a’)b (Distributif)
= a + 1 • b (Komplemen)
= a + b (Identitas)
(ii) adalah dual dari (i)
Prinsip Dualitas
Jika suatu kesamaan aljabar boolean B benar maka dual dari B ,diperoleh
dengan cara mengganti setiap + dengan . atau sebaliknya dan mengganti 1
dengan 0 atau juga sebaliknya, juga bernilai benar.
Aplikasi Aljabar Boolean
A. Jaringan Pensaklaran (Switching Network)
Saklar, yaitu objek yang mempunyai dua buah keadaan; buka dan tutup. Tiga bentuk gerbang paling sederhana:
1. Output b hanya ada jika dan hanya jika x dibuka ⇒ x
2. Output b hanya ada jika dan hanya jika x dan y dibuka ⇒ xy
3. Output c hanya ada jika dan hanya jika x atau y dibuka ⇒ x + y
B. Rangkaian pensaklaran pada rangkaian listrik:
1. Saklar dalam hubungan SERI: logika AND
1. Saklar dalam hubungan SERI: logika AND
2. Saklar dalam hubungan PARALEL: logika OR
Sumber :
http://www.gatewan.com/2016/01/mengenal-aljabar-boolean.html
SISTEM INPUT / OUTPUT (I/0)
SISTEM INPUT / OUTPUT (I/0)
Pengertian Sistem
Sistem berasal dari bahasa Latin (systema) dan bahasa Yunani
(sustema) adalah suatu kesatuan yang terdiri dari komponen atau elemen yang
dihubungkan bersama untuk memudahkan aliran informasi, materi atau energi.
Istilah ini sering dipergunakan untuk menggambarkan suatu set entitas yang
berinteraksi, di mana suatu model matematika seringkali bisa dibuat.
Pengertian Sistem Input (Masukan)
Pengertian input (masukan) yaitu energi yang dimasukkan ke
dalam sistem dan menentukan keluaran sistem. Masukan dapat berupa masukan
perawatan (maintenance input) dan masukan sinyal (signal input). Umumnya data
yang diperlukan adalah sebagai masukan sistem yang diturunkan dari kebutuhan
informasi. Agar data dapat diterima oleh komputer dengan baik, komputer
memiliki peralatan yang berfungsi untuk hal ini yang disebut dengan input
device. Input device (Perangkat Keras Masukan) adalah Perangkat untuk
memasukkan data dari luar ke dalam suatu memori dan processor untuk diolah guna
menghasilkan informasi yang diperlukan. Beberapa alat input mempunyai fungsi
ganda,yaitu disamping sebagai alat input juga berfungsi sebagai alat output
sekaligus. Alat yang demikian disebut sebagai terminal. Terminal dapat dihubungkan
ke sistem komputer dengan menggunakan kabel langsung atau lewat alat
komunikasi. Contoh: Modem, Ethernet, ATM, PDA, kamera digital dll.
Terminal digolongkan menjadi :
- -Intelligent
terminal, mempunyai alat pemroses dan memori di dalamnya sehingga input yang
terlanjur dimasukkan dapat dikoreksi kembali dan dapat diprogram oleh pemakai.
Contoh:
PC.
- -Non
intelligent terminal (dumb terminal), hanya berfungsi sebagai alat memasukkan
input dan penampil output, dan tidak bisa diprogram karena tidak mempunyai alat
pemroses.
Contoh : Teleprinter.
- -Smart
Terminal, mempunyai alat pemroses dan memori didalamnya sehingga input yang
terlanjur dimasukkan dapat dikoreksi kembali, tetapi tidak dapat diprogram oleh
pemakai kecuali pabrik pembuatnya.
Contoh : Calculator, Telepon.
Pengertian
output (keluaran)
Output (keluaran) yaitu hasil dari suatu proses atau
aktifitas menerima data dari hasil pengolahan pada bagian pemrosesan. Tentu
saja pada bagian ini diperlukan juga peralatan yang bekerja, dimana peralatan
tersebut disebut dengan output device. Output device (Perangkat Keras Keluaran)
Adalah Perangkat yang berfungsi untuk mengeluarkan hasil pemrosesan ataupun
pengolahan data yang berasal dari CPU kedalam suatu media yang dapat dibaca
oleh manusia ataupun dapat digunakan untuk penyimpanan data hasil proses.
Berdasarkan bentuk
outputnya,
unit output terdiri dari :
a. Hardcopy device, alat yang digunakan
untuk mencetak output ( misal: tulisan, angka, karakter dan simbol-simbol )
serta image ( grafik dan gambar ) pada media hard ( keras ) seperti kertas dan
film. Contoh : Printer.
b. Drive device, berupa alat yang
digunakan untuk merekam atau menyimpan hasil output dapam bentuk yang hanya
dapat dibaca oleh mesin, dan juga berfungsi sebagai alat output maupun alat
input. Contoh : Flashdisk, Harddisk, Disket dan CD.
c. Softcopy device, alat yang digunakan
untuk menampilkan tulisan ( kata, angka, karakter dan simbol-simbol ) serta
image ( grafik dan gambar ) ke dalam sinyal elektronik. Contoh : Monitor, Alpha
Numerik Display, Projector dan Speaker.
Input dan Output terbagi menjadi dua
bagian, yaitu :
1. Mekanisme I/O (alat input dan
output) perangkat dari input dan output itu sendiri seperti keyboard, paper
feeder, tape head dan sebagainya.
2. Pengontrol I/O (I/O
controller/system I/O) komponen yang mengatur aliran informasi antara perangkat
I/O dan komputer.
Contoh I/O :
Perangkat yang hanya berfungsi
sebagai alat input,digolongkan menjadi alat input langsung dan alat inputtidak
langsung
ž Alat input langsung Input yang
dimasukkan langsung diproses oleh alat pemroses. Contoh :
Ø Keyboard.
Ø Pointing Devices, contoh : mouse, touch pad.
Ø Scanning Devices, contoh : barcode reader, scanner.
Ø Image Capturing dan Digitising Devices. Image Capturing
Device, contoh : kamera digital, webcams. Digitising Device, contoh : graphics
tablets, digital notebook.
Ø Voice Recognizer, contoh : microphone. Alat Input tidak
langsun Melalui media tertentu sebelum suatu inputdiproses oleh alat pemroses.
ž Keypunch Yang dilakukan melalui media punched card (kartu
plong).
ž Key-to-tape Yang merekam data ke media berbentuk pita
(tape) sebelum diproses alat pemroses.
ž Key-to-disk Yang merekam data ke media magnetic
disk (misalnya disket atau harddisk) sebelum diproses lebih lanjut.
Sumber :
http://rekayasa-komputer.blogspot.co.id/2014/10/sistem-input-output-i0.html
Langganan:
Postingan (Atom)


